Opini Musri Nauli: Islam di Jambi

Musri Nauli. Ist

Beberapa waktu yang lalu, Al Haris sebagai Gubernur Jambi menerima kedatangan tamu Rektor Universitas Internasional Africa Sudan dan Pengurus Pondok Pesantren Al Kinanah Jambi, serta Tamu Kehormatan UIN STS Jambi. 

Kedatangan tamu yang datang ke Jambi mengingatkan bagaimana Jambi berkesempatan untuk menjadikan Jambi sebagai Kajian Islam sebagai salah satu Rujukan. 

Sebenarnya, di kalangan kampus, konsentrasi perkembangan Islam sudah lama menjadi perhatian. UIN STS (dulu IAIN STS) adalah salah satu perhatian dari pelajar dan mahasiswa dari luar Indonesia. Entah dari Malaysia, Philipina selatan dan Thailand Selatan. 

Bahkan di berbagai tempat malah dikenal “kampung Malaysia”, “kampung Pattany” ataupun “kampung Thailand”. Dari dulu, mahasiswa berduyun-duyun kuliah Malah Kuliah di UIN STS Jambi. 

Secara sekilas, saya penasaran. Apa yang menjadi daya tarik mahasiswa luar Indonesia malah kuliah di UIN STS Jambi ? Apa keunggulan UIN STS sehingga kemudian menjadi perhatian ? 

Namun terlepas dari berbagai pertanyaan yang memerlukan jawaban, sebenarnya Jambi adalah salah satu pusat agama Islam. 

Berbagai tarekat yang ada dan masih eksis di Jambi adalah bukti dan jejak yang tidak dapat dipungkiri. Perjalanan islam ternyata mempunyai akar yang panjang dengan peradaban Islam di dunia. 

Entah dari Haramain (Mekkah dan Medinah), Yaman, Turki, Mesir dan India. 

Jejak Tarekat baik yang kemudian mengikrarkan diri secara Terbuka maupun yang menginduk dan kemudian menjadi bagian dari Tarekat Naqshabandiyah (Naqsyabandiyah/ Naqsabandiyah) adalah Pekerjaan besar yang mesti pelan-pelan ditelusuri. 

Lihatlah. Apabila Kita mau sejenak ke Uluan Batanghari (Uluan Jambi) malah ditemukan Tarekat Sammaniyah dan Tarekat Khalwatiyah. Tarekat yang mempunyai akar tradisi yang panjang dari India dan Mesir. 

Dua nama Tarekat bahkan asing di telinga masyarakat Jambi. 

Padahal Tarekat ini justru menjadi kehidupan sehari-hari ditengah masyarakat. 

Sudah saatnya, Jambi harus mengikrarkan diri sebagai tuan rumah Islam di Nusantara. Sebagai pusat Kajian Islam. Baik dilihat dari pendekatan berbagai disiplin ilmu maupun dari pendekatan sejarah dan kebudayaan. 

Dan Jambi mempunyai kesempatan besar untuk menjadi salah satu tuan rumah yang dapat menjadi Rujukan perjalanan Islam di Nusantara. 

Tentu saja diperlukan pekerjaan besar dan panjang untuk mewujudkannya.