Ini Makna Sejarah Tanah dan Air yang Dibawa Al Haris dan Diserahkan ke Jokowi di Titik Nol IKN

Pariwarajambi.com – Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersama sejumlah kepala daerah dan perwakilan dari 34 provinsi menggelar prosesi Kendi Nusantara di Titik Nol Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Kendi Nusantara sendiri merupakan prosesi menyatukan air serta tanah yang dibawa oleh 34 kepala daerah dari 34 provinsi ke dalam satu gentong besar dan diserahkan ke Jokowi.

Baca juga: Diserahkan ke Jokowi di Titik Nol IKN, Al Haris Bawa Tanah Pilih dan Air Kolam Telago Rajo

Gubernur Jambi, Al Haris membawa tanah pilih Jambi, air kolam Telago Rajo dan air danau gunung tujuh untuk diserahkan ke Jokowi.

Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jambi Erick Nurachmat Herlambang menerangkan, hasil rapat persiapan kunjungan kerja di IKN, sudah dimasukkan perihal membawa tanah dan air dari Provinsi Jambi ke IKN.

“Salah satu kegiatan yang akan dilakukan oleh gubernur Jambi adalah proesi penyatuan tanah dan air yang dibawa dari daerah masing-masing, dengan menuangkan ke wadah yang telah disiapkan oleh panitia,” ungkap Erick kepada Jambiseru.com media partner Pariwarajambi.com.

Ini makna sejarah tanah dan air yang dibawa Al Haris ke titik Nol IKN dan diserahkan ke Jokowi:

TANAH PILIH JAMBI

Menurut kitab Sejarah, Undang-undang, Silsilah Raja-raja Jambi yang ditulis oleh Ngebih Sutho Dilago Priayi Rajo Sari pembesar dari kerajaan Jambi dari suku bangsa 12, menyebutkan bahwa pada waktu Orang Kayo Hitam menyebarkan Islam ke Jambi Hulu bertemulah dengan penguasa Jambi Hulu Temenggung Merah Mato yang pada pertemuan tersebut terjadi pernikahan Orang Kayo Hitam dengan Putri Mayang Mangurai anak Temenggung Merah Mato Raja Air Hitam Pauh.

Setelah pernikahan, Orang Kayo Hitam yang ingin kembali ke hilir (Ujung Jabung), Temenggung Merah Mato menyampaikan kepada Orang Kayo Hitam agar mengikuti sepasang angsa sebagai petunjuk arah untuk mendapatkan tempat pemukiman baru yang dijadikan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan kerajaan. Setelah berhari-hari mengikuti, angsa kemudian menepi dipinggir sungai Batanghari dan tidak kembali ke Sungai. Akhirnya Orang Kayo Hitam berserta rombongan turun kedarat dan mulai membersihkan Kawasan tersebut sebagai tempat pemukiman yang kemudian dikenal dengan Tanah Pilih yang lokasi sekarang berada dikawasan Masjid Al Falah Kota Jambi.

Kawasan ini pernah dijadikan pusat pemerintahan kesultanan Jambi, dimana terdapat istana yang dikelilingi oleh benteng yang pada tahun 1858 diserang oleh tentara kerajaan Belanda dan mengakibatkan istana terbakar dan hancur. Sultan Jambi yang terakhir menempati istana ini adalah Sultan Thaha Syaifuddin.

KOLAM TELAGO RAJO

Dalam pola pemukiman “benua/wanua/permukinan” tempat suci, mesti ada titik seimbang, titik cakra, untuk menetralkan pengaruh buruk, maka dibuat lah kolam di tengah tengah komplek suci, pada komplek percandian Muaro Jambi dikenal dengan: kolam Telago Rajo, sebagaimana terkait kosmologi budhisme dalam penerapan konsep jalamandala dan kancamandala sebagaimana yang diuraikan dalam kitab Abhidharmakosa. Air dan angin mengelilingi semeru yang dianggap areal suci. Elemen air dan angin berperan sebagai media penyucian, komplek percandian Muaro Jambi ditemukan pada pertengahan tahun 1970-an, diperkirakan kolam telago rajo berperan sebagai reservoir atau penampung sekaligus pengolah air bersih yang mensuplai kebutuhan kehidupan sehari-hari dan keperluan ritual, waduk control, agar air tidak menggenangi lingkungan candi dan sebagai tempat persediaan air bersih masyarakat masa lalu. Kolam Telago Rajo terletak 100 meter sebelah tenggara Candi Gumpung. Kolam ini dikelilingi oleh gunduhan tanah yang berbentuk persegi berukuran 130 x 100 meter dan kedalamannya sekitar 2 sampai 3 meter. Lebar bidang gundukan ini mencapai 20 meter. hasil inventarisasi menunjukkan selain kolam Telago Rajo juga terdapat kolam-kolam kuno tersebar dekat beberapa bangunan candi.

Kolam Telago Rajo dipercayai oleh penduduk sekitar berperan sebagai penampung dan pengolahan air yang menyuplai kebutuhan air bersih di kawasan Muarajambi sepanjang musim, baik musim kemarau maupun musim banjir dari daerah aliran sungai (DAS) Batanghari.