Oleh: Fil Azhari Alfath
Merdeka menjadi kata yang paling sering kita dengar apalagi pada saat-saat sekarang yang justru euforianya sangat terasa ketika melantunkan kata merdeka. Kita bagai pejuang tangguh yang teriak sepanjang waktu, alih-alih mencari dan merefliksikaan kemerdekaan justru berakhir dalam ketersesatan. Setiap kita justru sering terjebak dalam semantik yang berbeda dari kata merdeka. Pada masa penjajahan kata merdeka diartikan sebagai Kebebasan, tidak dijajah oleh bangsa lain sekaligus Negara dapat menentukan nasib dan masa depannya sendiri. Namun apakah kata merdeka saat ini masih relevan untuk diartikan seperti yang disebutkan diatas?. Tentu saja hal itu menjadi tanda tanya besar mengingat kondisi dan situasi yang sudah jauh berbeda.
Maka daripada itu agar dapat sama-sama kita sepakati bahwa dalam setiap perkembangan waktu tentu akan membawa perubahan kondisi sosial yang juga akan sangat mempengaruhi sebuah penafsiran. Persis ketika Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kata “merdeka” sebagai bebas, tidak terkena atau lepas dari tuntutan dan tidak terikat. Ajaibnya makna yang mendalam dari 1 kata ini mampu membawaku dalam sebuah titik perenungan dalam sepenggal pengalaman saya di “Ampera” dan justru membuka sudut pandang sendiri untuk memaknainya.
Sebagai Mahasiswa penganut paket hemat, Ampera telah menjadi rumah saya di perantauan. Tempat makan favorit bagi golongan pejuang yang belum gajian atau tanggal tua, haha. Lanjut!
Ampera adalah nama sebuah Rumah Makan yang terletak dipinggiran Jalan Lingkar Barat II, Bagan Pete, Kota Jambi, menjadi salah satu tempat makan yang sangat digemari oleh warga Bagan pete, ibu yang punya ampera sangat ramah, masakannya enak dan murah meriah untuk semua menu dapat dibeli pada harga Rp. 10.000 per bungkusnya, kemudian bagi yang makan ditempat (dine in) bisa memilih mengambil makanannya secara leluasa bagaikan makan dirumah milik sendiri.
Akhir-akhir ini tentunya banyak yang membicarakan tentang bagaimana menyemarakkan hari 17 agustus atau lebih tepatnya momen memperingati hari kemerdekaan tak terkecuali dalam obrolan di meja makan Ampera, pasalnya warga sekitar sudah mulai sibuk memasangkan umbul-umbul dan bendera merah putih di halaman rumah mereka. Saya dengan sengaja menanyakan arti dari kata merdeka, menurut ibu yang punya Ampera sembari mengambil piring yang ada di meja makan. “Merdeka/Kemerdekaan menurut ibu ya kebebasan, bebas” jawabnya seraya tersenyum.
Jawaban itu lantas dilanjutkan oleh seseorang pelanggan yang akrab dipanggil pakde sambil menambah nasi dipiringnya, “Bebas, asal tidak merugikan orang lain atau mengambil hak orang lain, seperti di tempat makan ini kalian merdeka dan bebas mengambil sendiri apa yang mau kalian makan dan jikalau kalian tambah nasi, bayarannya pun tetap sama 10.000,” ujar pakde dengan menahan tawa.
Pernyataan pakde menunjukkan bukti konkret tentang makna hari kemerdekaan kita. Sama halnya kita sebagai warga negara Indonesia, negara yang demokrasi, disini kita (seharusnya) bebas berekspresi dan berpendapat namun tentunya harus tetap sesuai dengan aturan main (ketentuan kebebasan berpendapat dalam UUD). Ingat yaa bestie ada aturan mainnya loh! jangan asal nyerocos atau menulis sesuatu yang belum pasti akan kebenarannya, apalagi yang mengarah kepada ujaran kebencian, atau membuat pribadi lain merasa tersinggung dan terluka.
Percakapan singkat itu sangat menginspirasi kita semua khususnya bagi saya pribadi. Dahulu para pejuang kemerdekaan menenteng senjata atau bambu runcing untuk berjuang melawan penjajah sampai titik darah penghabisan, sekarang bagaimana kita harus mengisi kemerdekaan itu?.
Nah, tentunya dengan melakukan hal-hal positif sesuai dengan tupoksi dan kemampuan kita masing-masing. Sebagai contoh sesuatu yang bisa kita lakukan adalah dengan belajar yang giat, mendukung perkembangan produk dalam negeri, mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia hingga ikut serta terlibat dalam usaha memajukan sektor pendidikan, pertanian atau sektor lainnya. Hal ini sesuai dengan tema HUT ke-77 RI “Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat”.
Pada tanggal 17 Agustus kita sebagai warga Negara Indonesia selalu melaksanakan upacara bendera untuk menghormati jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita demi membela dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga sampai hari ini kita masih bisa merasakan hasil dari perjuangan tersebut. Tidak terasa beberapa hari lagi kita akan sampai pada tanggal 17 Agustus tahun 2022, dan tidak terasa pula Negara kita tercinta akan memasuki usia 77 tahun kemerdekaan. Tentunya banyak perkembangan serta lika liku yang telah terjadi dalam mempertahankan dan menghayati kemerdekaan ini yang sudah sepatut dan sewajarnya harus terus dijadikan materi refleksi untuk keberlanjutan dalam usaha pemaknaan kata “Merdeka”.
Oleh karena itu, peringatan hari ulang tahun ke 77 dapat dijadikan momen untuk merenungkan kembali bagaimana kondisi Negara kita saat ini, apakah merdeka yang dikatakan sudah sepenuhnya dapat dirasakan, atau justru sebaliknya kita (Kembali) terjajah secara tidak langsung?. Sungguh sangat disayangkan jika pada momen kemerdekaan ini hanya sekedar dirayakan dengan acara-acara hiburan yang sifatnya sorak-sorai belaka dan jauh dari makna refleksi makna kemerdekaan. Padahal jika dicermati hal ini sangat tidak berhubungan dengan filosofi dan hakekat perjuangan serta kemerdekaan Negara ini.
Mungkin sah – sah saja mengadakan acara – acara hiburan untuk merayakannya. Namun, alangkah lebih baik jika hal tersebut bisa dijadikan sarana untuk merenungi bagaimana jasa para pahlawan, serta kemerdekaan Negara kita tercinta ini. Untuk itu mari kita jadikan momen yang sangat bersejarah ini, sebagai ajang untuk meresolusi atau merencanakan kontribusi kecil apa yang akan kita lakukan agar kemerdekaan kita tetap terjaga makna dan marwahnya.
Dalam pidato proklamasinya, bapak proklamator mengatakan, “Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan kita sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya”. Hingga sampailah kita selaku pemuda penerus bangsa hari ini pada sebuah pertanyaan besar, “Jadi, kontribusi apa yang sud PPah atau akan kamu lakukan untuk mengisi dan menjaga makna kemerdekaan ini?”
Fil Azhari Alfath Departement Penelitian dan Pengembangan MISETA FP UNJA 2021-2022









