Pariwarajambi.com – Setiap lebaran ketiga dan lebaran keempat, warga Serampas mengadakan jamuan makan bersama di balai desa sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT.
Tradisi ini masih bertahan hingga saat ini dan selalu dilakukan setiap lebaran di Marga Serampas, baik di Desa Renah Alai, Desa Rantau Kermas, Lubuk Mentilin (Talang Alo), Tanjung Kasri, dan Renah Kemumu.
Tradisi ini dinamakan “Muko Dumeh” dan diselenggarakan di rumah “gedang” di hari “Rayo” ketiga dan “Rayo” keempat. Tepat diwaktu makan siang.
Muko Dumeh ini diartikan menggemukakan rezeki atau sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan selama setahun dalam bentuk doa dan jamuan makan bersama. Muko Dumeh ini diselenggarakan setahun sekali, hanya disaat lebaran.
Rumah gedang merupakan balai desa atau rumah besar. Setiap desa di Marga Serampas semuanya memiliki rumah gedang. Rumah gedang ini fungsinya untuk pertemuan, fungsi rumah gedang juga untuk acara berlek (hajatan nikahan), untuk tempat Muko Dumeh, kenduri, dan diera modern ini juga difungsikan sebagai sarana olahraga bola voli atau badminton.
Sementara kata hari Rayo ini artinya bagi warga Serampas adalah hari lebaran.
Muko Dumeh ini prosesnya diadakan pada lebaran ketiga dan keempat. Tradisi ini pelaksanaannya sama disemua desa dalam marga Serampas.
Kali ini penulis mengutip tradisi Muko Dumeh di Desa Renah Alai. Pelaksanaan Muko Dumeh di Renah Alai ini diadakan selama dua hari yakni lebaran ketiga dan lebaran keempat.
Prosesnya warga dibagi dua kelompok yakni larik (deretan) sungai Dingin dan larik sungai Betung (Sungai Dingin dan sungai Betung merupakan nama sungai di Renah Alai). Dua kelompok ini saling bergantian menjadi tuan rumah atau yang memberikan jamuan.

“Di Renah Alai hari pertama Muko Dumeh (lebaran ketiga) yang jadi tuan rumah bisa larik sungai dingin duluan atau larik sungai Betung. Kalau Rayo dulu (lebaran sebelumnya) larik sungai Betung jadi tuan rumah dulu, Mako Rayo tahun ini larik sungai dingin yang duluan menjamu warga larik sungai Betung, baru Muko Dumeh hari kedua (lebaran keempat) gantian larik sungai Betung yang menjamu atau menjadi tuan rumah bagi warga larik sungai Dingin,” kata sesepuh Adat Renah Alai atau tokoh adat Serampas, Ruslan.
Sebagai tuan rumah, semalam sebelum hari H seluruh perwakilan keluarga (atau KK) mengadakan rapat atau pertemuan. Rapat ini membahas apa yang akan dimasak untuk makanan atau jamuan untuk tamu, seperti berapa banyak iuran beras, apa menu yang dimasak (bisa ayam atau daging), berapa banyak kayu api, kelapa, kue, dan bumbu sayur lainnya.
“Sebelum Muko Dumeh malamnyo rapat dulu dan harus dihadiri setiap tumbi (perwakilan setiap keluarga/KK). Itu dibahas berapo kuona (takaran/jumlah) beras yang dikumpulkan (warga serampas biasanya ukuran beran menggunakan canting atau gantang (Canting merupakan ukuran atau takaran beras yang dibuat dari kaleng susu), berapa kilogram ayam, berapo keping Suluh (kayu api), kelapo dan segalo macamnya. Biasanya rapat dipimpin kepada dusun atau yang dituokan. Biasanya rapat ini juga diatur siapa yang tukang masak gulai, tukang masak air hangat, tukang jemput, hingga tukang hidangkan makanan,” ujarnya.
Lalu pada hari H, bahan-bahan masakan yang sudah disepakati saat rapat dikumpulkan dan dimasak oleh tuan rumah untuk persiapan makan siang bersama. Setelah semuanya siap, tuan rumah mengutus beberapa orang yang sudah ditunjuk saat rapat untuk mendatangi semua rumah yang menjadi tamu, tujuannya untuk mengundang agar hadir di rumah Gedang untuk syukuran jamuan makan bersama.
“Undangan ini harus datang langsung salami yang punya rumah (tuang rumah di deretan yang menjadi tamu),”
Sementara itu, pihak tuan rumah melakukan persiapan penyambutan dengan penuh kehormatan kepada pihak tamu atau pihak yang dijamu.
Pihak tamu datang ke rumah gedang dengan waktu bersamaan. Setibanya tamu di depan rumah gedang, lalu dilakukan prosesi penyambutan yang didahului dengan sambutan kehormatan oleh pihak tuan rumah (prosesi ini biasanya dilakukan oleh pemuda), lalu pengalungan bunga dan biasanya kalungan bunga diberikan kepada perangkat desa atau orang yang dituakan dari pihak tamu atau yang dijamu (prosesi ini dilakukan oleh pemudi dari pihak tuan rumah).
Setelah itu, ada prosesi hiburan sebagai bentuk penghargaan atau persebahan kepada tamu berupa pertunjukan silat, tauh (tari tradisional warga Serampas) dan sekadam (orang yang didandani dengan karakter lucu dan seram). Hiburan ini diiringi dengan musik tradisional dengan alat dap (gendang) dan gong, serta penyanyi pantun atau pantau.
Selanjutnya setelah semuanya selesai, tamu semuanya dipersilahkan oleh tuan rumah untuk masuk ke rumah gedang.
Di dalam rumah gedang, posisi tamu juga sudah disiapkan, biasanya disesuaikan dengan jabatan atau perangkat di dalam desa atau adat.
Setelah semuanya duduk, tuan rumah menghidangkan makanan. Uniknya semua tamu, tua hingga anak-anak mendapatkan jamuan yang sama.
Setelah semua makanan dihindangkan, lalu orang adat menyampaikan Parago (penyampaian maksud dan tujuan kumpul/hajatan di rumah Gedang tersebut. Ini dilakukan oleh orang tua adat atau pemuka adat). Setelah itu pembacaan Kulhu tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh imam masjid, setelah itu acara puncak yakni makan bersama
“Ado Parago oleh orang adat, perago ni menyampaikan maksud dan tujuan dari hajatan atau Muko Dumeh tadi. Setelah itu doa bersama yang dipimpin imam masjid, sudah tu makan bersama,” kata mantan Kades ini.
Setelah semuanya selesai makan, pihak tamu boleh meninggalkan rumah gedang untuk pulang ke rumah masing-masing terlebih dahulu. Sementara pihak tuan rumah harus tinggal terlebih dahulu untuk membersihkan rumah gedang tersebut.(rky)






