Pariwarajambi.com – Suasana haru menyelimuti halaman masjid Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Kecamatan Pamenang, saat digelarnya acara perpisahan santri kelas VI Pondok Pesantren dan XII Madrasah Aliyah (MA), Rabu (13/05/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Merangin, M. Syukur, yang memberikan motivasi dan pesan mendalam kepada para santri, wali santri, serta jajaran pengajar pesantren.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi tinggi kepada pimpinan Ponpes Madinatul Ulum, Kiai Kholiq, beserta seluruh tenaga pendidik yang terus istiqomah membina generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan dunia digital.
Menurutnya, pesantren memiliki peran penting sebagai benteng moral dan spiritual bagi generasi muda saat ini.
“Di era dunia maya seperti sekarang, kita harus masuk ke dunia globalisasi, tetapi bentengnya adalah agama. Dan ilmu agama paling banyak dipelajari di pesantren,” ujar M. Syukur.
Bupati juga meluruskan pandangan sebagian masyarakat yang masih menganggap pesantren sebagai tempat bagi anak-anak bermasalah. Ia menegaskan, tidak ada anak yang nakal, melainkan adanya komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak.
“Pesantren bukan tempat menampung anak nakal. Kita harus introspeksi diri sebagai orang tua, di mana komunikasi itu terputus. Pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada guru, orang tua tetap punya peran penting,” tegasnya.
Selain memberikan motivasi kepada para santri, M. Syukur turut menanggapi aspirasi masyarakat Pamenang terkait kondisi infrastruktur, khususnya jalan di kawasan Pasar Pamenang.
Ia menyebutkan, saat dirinya dilantik sebagai Bupati Merangin pada Februari tahun lalu, kondisi jalan mantap di Kabupaten Merangin baru berada di angka sekitar 21 persen.
Namun demikian, ia memastikan pemerintah daerah akan berupaya memperbaiki infrastruktur secara bertahap, termasuk jalan Pasar Pamenang yang menjadi keluhan masyarakat.
“Insyaallah pada anggaran perubahan nanti kita selesaikan perbaikan jalan Pasar Pamenang. Kami mohon masyarakat bersabar karena semuanya harus melalui mekanisme anggaran perubahan,” jelasnya.
Bupati juga menegaskan komitmennya untuk terus membangun Kabupaten Merangin meski harus menghadapi berbagai tantangan anggaran dan birokrasi. Ia mengaku memilih kembali mengabdi di daerah kelahirannya demi membawa perubahan bagi masyarakat.
Di akhir sambutannya, M. Syukur berpesan kepada seluruh santri agar tidak hanya mengejar ilmu pengetahuan, tetapi juga menjaga adab dan akhlak dalam kehidupan.
“Masuk pesantren tidak harus menjadi kiai. Kalian bisa jadi dokter, pengusaha, pejabat, atau profesi apa pun, asalkan tetap memegang teguh nilai-nilai Al-Qur’an. Jadilah duta dakwah di mana pun berada,” pungkasnya.(*)












