Transportasi Pendidikan di Era Digital yang  Mereduksi Nilai Budaya

Di TENGAH perkembangan zaman yang pesat, dunia pendidikan tidak luput dari pengaruh revolusi digital yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan. Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi telah secara drastis mengubah cara kita mengakses informasi, berinteraksi dengan budaya, serta menjalani proses belajar-mengajar. Peralihan dari metode konvensional menuju pendekatan berbasis teknologi digital membawa dampak besar dalam merombak lanskap pendidikan secara global. Salah satu perubahan paling menonjol adalah kemudahan akses terhadap informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Namun, di balik kemajuan ini, terdapat tantangan besar yang tidak bisa diabaikan. Integrasi teknologi dalam dunia pendidikan menimbulkan persoalan etika dan keamanan yang patut menjadi perhatian. Isu seperti perlindungan data pribadi, keamanan siber, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Era digital telah menjadi babak baru dalam peradaban manusia. Pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa tidak bisa lepas dari arus perubahan ini. Kemajuan teknologi membuka jalan menuju sistem pembelajaran yang lebih inklusif, dinamis, dan terhubung secara global.

Saya meyakini bahwa transformasi pendidikan di era digital adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perkembangan teknologi memang telah membuka akses belajar yang lebih luas, cepat, dan fleksibel. Kita bisa mengakses informasi dari berbagai sumber hanya dengan sekali klik. Hal ini tentu membawa kemudahan dan efisiensi dalam proses belajar-mengajar, baik bagi siswa maupun guru.

Namun, di balik kemudahan itu, saya melihat ada sisi lain yang perlu diwaspadai, yaitu melemahnya nilai-nilai budaya lokal yang selama ini menjadi identitas kita. Generasi muda semakin akrab dengan budaya luar, tetapi justru mulai melupakan akar budayanya sendiri. Padahal, pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur yang membentuk karakter dan jati diri.

Transformasi pendidikan tidak boleh hanya mengejar modernisasi, tetapi juga harus menyeimbangkan kemajuan dengan pelestarian budaya. Jika tidak, kita akan mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi kosong secara identitas.

Meski demikian, perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif, salah satunya adalah ketergantungan terhadap teknologi itu sendiri. Manusia semakin melekat pada perangkat digital, seolah-olah kehidupan tidak bisa dipisahkan dari teknologi (Herlambang, 2018).

Nilai budaya merupakan pedoman yang terbentuk dari kebiasaan, kepercayaan, dan karakteristik suatu masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, kemajuan teknologi global sering kali menyebabkan tergerusnya nilai-nilai budaya lokal. Masyarakat menjadi mudah terpengaruh oleh isu global sehingga secara perlahan nilai-nilai budaya yang telah lama mengakar mulai tersisih (Herlambang, 2018).

Kebudayaan adalah hasil cipta manusia yang membentuk sikap dan cara pandang suatu kelompok masyarakat terhadap kehidupan. Kebudayaan diwariskan dari generasi ke generasi melalui komunikasi dan proses belajar, yang berperan penting dalam membentuk karakter generasi penerus (Yunus, 2013).

Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan pendidikan yang berbasis budaya. Pendidikan semacam ini mampu memperkuat identitas kebudayaan dalam diri individu dan masyarakat. Dengan demikian, mereka dapat memilah dan menyaring informasi atau pengaruh global yang masuk, serta menjaga nilai-nilai lokal agar tidak luntur oleh arus globalisasi.***

Penulis oleh Fadil Muhammad Mahasiswa Universitas Islam Negeri STS Jambi jurusan Manajemen Pendidikan Islam