Pariwarajambi.com – Lapas Kelas IIA Jambi terus menggencarkan dua program unggulan dalam pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), yakni pembinaan kemandirian melalui kegiatan membatik dan pembinaan keagamaan melalui kegiatan mengaji di Masjid At-Taubah. Dua program ini berjalan beriringan sebagai upaya membentuk WBP yang terampil, produktif, berakhlak baik, serta siap kembali ke masyarakat.
Di workshop pembinaan, para WBP mengikuti pelatihan membatik mulai dari tahap pembuatan pola, teknik mencanting, pewarnaan, hingga finishing. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada peningkatan keterampilan seni, namun juga menanamkan karakter sabar, teliti, dan kreatif.
Kasi Giatja Lapas Jambi, Jailani, mengatakan bahwa kegiatan membatik merupakan program berkelanjutan yang terus ditingkatkan.
“Pembinaan kemandirian melalui membatik ini kami jalankan secara berkesinambungan. Selain memberikan keterampilan, kegiatan ini juga membentuk karakter WBP agar lebih sabar, teliti, dan kreatif,” ujarnya.
Kasubsi Sarana Kerja, David Gokma Evendy Marbun, menambahkan bahwa pihaknya terus memperkuat sarana dan prasarana pembinaan agar hasil batik WBP semakin berkualitas.
“Hasil batik WBP Lapas Jambi kini semakin rapi dan bernilai ekonomis, sehingga menambah semangat mereka untuk berkarya,” jelasnya.
Sementara itu, pembinaan kepribadian juga terus digalakkan melalui program mengaji di Masjid At-Taubah. WBP mengikuti pembelajaran Al-Qur’an dan Iqra secara bertahap mulai dari pemantapan huruf hijaiyah hingga perbaikan tartil. Kegiatan ini didampingi petugas pembinaan serta peserta magang pada bagian kerohanian.

Untuk meningkatkan ketertiban dan monitoring, Lapas Jambi menerapkan sistem absensi fingerprint sebelum dan sesudah kegiatan mengaji.
Kasi Binadik Lapas Jambi, Yuli Wirdina, menegaskan pentingnya pembinaan moral bagi WBP.
“Pembinaan keagamaan adalah salah satu cara kami menanamkan akhlak, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab dalam diri mereka,” ujarnya.
Kasubsi Bimkemaswat, Pandega Bayu Pratama, juga menyampaikan bahwa inovasi fingerprint membantu meningkatkan efektivitas pembinaan.
“Dengan pendampingan langsung dan sistem absensi fingerprint, proses pembinaan menjadi lebih tertib dan terukur,” jelasnya.(*)






