Bantaian Adat Bukit Batu, Tradisi Syukur Menyambut Semarak Ramadhan 

Pariwarajambi.com – Suasana khidmat bercampur kemeriahan menyelimuti Desa Bukit Batu, Kecamatan Sungai Manau, Sabtu (14/02/2026). Ratusan warga tumpah ruah di lapangan terbuka untuk melaksanakan tradisi turun-temurun Bantaian Adat, sebuah ritual sakral sebagai ungkapan syukur sekaligus penanda menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.

Kegiatan adat yang sarat makna tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Merangin, A. Khafidh, yang hadir mewakili Bupati Merangin M. Syukur. Tahun ini, antusiasme masyarakat terlihat meningkat signifikan. Hal itu tercermin dari jumlah hewan ternak yang disembelih, mencapai 13 ekor kerbau—nyaris dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tujuh ekor.

Wabup A. Khafidh menyampaikan permohonan maaf dari Bupati M. Syukur yang berhalangan hadir karena tengah menjalankan tugas kedinasan di Desa Pinang Merah. Ia pun mengapresiasi kekompakan dan kebersamaan warga Bukit Batu yang konsisten menjaga kelestarian adat istiadat.

“Pemerintah Kabupaten Merangin merasa bangga. Berkumpulnya masyarakat di sini bukan sekadar memotong daging, tetapi merupakan wujud rasa syukur. Secara ekonomi, peningkatan dari tujuh menjadi 13 ekor kerbau ini menunjukkan adanya kenaikan kesejahteraan masyarakat Bukit Batu,” ujar Wabup Khafidh di hadapan warga.

Ia juga mengingatkan agar semangat kebersamaan dalam bantaian adat diiringi dengan ketaatan pada kesepakatan adat yang telah diwariskan para leluhur.

“Mari kita taati apa yang sudah disepakati niniak mamak. Jangan sampai ada selisih paham. Kita sambut Ramadan dengan hati yang bersih dan saling memaafkan,” pesannya.

Sementara itu, Tokoh Adat (Ninik Mamak) Bukit Batu, Datuk Harun, menjelaskan filosofi mendalam di balik tradisi bantaian adat. Menurutnya, pembagian daging dilakukan berdasarkan aturan yang telah digariskan para pendahulu, dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan antara pemilik ternak dan masyarakat (anak buah/kemenakan).

“Ado pepatah mangatokan, manusio batingkek turun, maningga warih tingga pusako. Tradisi ini tidak boleh hilang. Aturan pemantaian ini sudah ditetapkan oleh penghulu datuk-datuk masa lalu dengan penuh kebijaksanaan,” tuturnya dengan bahasa adat yang kental.

Ia menegaskan, seluruh proses—mulai dari penentuan bagian untuk niniak mamak hingga pembagian kepada masyarakat—dilakukan secara terbuka dan transparan.

“Daging gajah samo dilapah, daging tunggal samo dicacah. Artinya, semua merasakan nikmat yang sama. Harapan kita, tahun depan jumlahnya bisa terus bertambah,”l” pungkas Datuk Harun. (*)

News Feed